mesin pencari

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU PENGOMPOSAN

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU PENGOMPOSAN

Agar diperoleh hasil pengomposan yang optimal perlu memperhatikan beberapa factor lingkungan yang berpengaruh karena proses ini merupakan proses biologi. Factor yang mempengaruhi laju pengomposan diantaranya ukuran bahan,rasio C/N, kelembabab dan aerasi, temperature, dearajat keasaman, serta mikroorganisme yang terlibat.

  1. ukuran bahan

proses pengomposan akan lebih baik dan cepat bila bahan mentahnya memiliki ukuran yang lebih kecil. Karen aitu, bahan yang ukurannya besar perlu dicacah atau digiling terlebih dulu sehingga ukurannya menjadi lebih kecil.bahan yang lebih kecil akan mudah didekomposisi karena luas permukaannya meningkat dan mempermudah aktivitas mikroorganisme perombak. Namun, ukurannya bahan tersebut jangan terlalu kecil. Ukuran bahan mentah yang terlalu kecil akan menyebabkan rongga udara berkurang sehingga timbunan menjadi lebih mampat dan pasokan oksigen kedalam timbunan akan semakin berkurang. Jika pasokan oksigen berkurang mikroorganisme yang ada didalamnya tidak bisa bekerja secara optimal

  1. Rasio C/N

Rasio C/N merupakan factor paling penting dalam proses pengomposan. Hal ini disebabkan proses pengomposan terantung dari kegiatan mikroorganisme yang membutuhkan karbon sebagai sumber energi dan pembentuk sel, dan nitrogen untuk membentuk sel.

Besarnya nilai C/N tergantung dari jenis sampah. Proses pengomposan yang baik akan menghasilkan rsio C/N yang ideal sebesar 20 – 40, tetapi rasio paling baik adalah 30.

Jika rasio C/n tinggi, aktivitas mikroorganisme akan berkurang. Selain itu diperlukan beberapa siklus mikroorganisme untuk menyelesaikan degradasi bahan kompos sehingga waktu pengomposan akan lebih lama dan kompos yang dihasilkan akan bermutu rendah.

Jika rasio C/N terlalu rendah (kurang dari 30) kelebihan nitrogen (N) yang tidak dipakai oleh mikroorganisme tidak dapat diasimilasi dan akan hilang memlaui volatisasi sebagai ammonia atau terdenitrifikasi.

Table komposisi karbon © dan nitrogen (N) pada beberapa bahan Organik.


Jenis bahan

Rasio C/N (g/g)

Kadar air (%)

Jumlah C (%)

Jumlah N (%)

Potongan kertas

20

85

6

0,3

Gulma

19

85

6

0,3

Daun

60

40

24

0,4

Kertas

170

10

36

0,2

Limbah buah

35

80

8

0,2

Serbuk gergaji

450

80

8

0,5

Kotoran ayam

7

15

34

0,08

Sekam kandang

10

20

30

4,3






Jerami padi

100

10

25

2,5

Kotoran sapi

12

50

36

0,4

Urin manusia





Limbah makanan

15

80

8

0,5


Campuran dari beberapa bahan yang disebutkan pada table diatas dapat dihitung nilai rasio C/N –nya dengan contoh perhitungan sebagai berikut.


C/N =( ∑AxgC /100gA) + (∑xgC100gB) + …..

_______________________________

( ∑AxgN/ 100gA) + (∑BxgN/100gB) + …

contoh;

  1. potongan kertas yang dicampur dengan serbuk gergaji dengan perbandingan 12:1 memiliki rasio C/N sebagai berikut:

C/N = (12x6) + (1x34)

_______________

(12x0,3)+(1x0,08

  1. kelembaban dan Aerasi

Mikroorganisme yang berperan dalam pengomposan melakukan aktivitas metabolisme diluar sel tubuhnya. Sementara itu reaksi biokimia yang terjadi dalam selaput airtersebut membutuhkan oksigen dan air. Karena itu dekomposisi bahan organic sangat tergantung dari kelembaban lingkungan dan oksigen yang diperoleh dari rongga udara yang terdapat diabtara partikel bahan yang dikomposkan.

Dekomposisi secara aerobic dapat terjadi pada kelembaban 30 -100% dengan pengadukan yang cukup.

Secara umum, kelembaban yang baik untuk berlangsungnya proses dekomposisi secara aerobic adalah 50 -60 % dengan tingkat terbaik 50 %. Namun sebenarnya kelembaban yang baik pada pengomposan tergantung dari jenis bahan organic yang digunakan dalam campuran bahan kompos. Nilai kelembaban bahan kompos yang ideal untuk beberapa bahan dapat dilihat pada table


Table Kelembaban ideal pengomposan beberapa jenis bahan organic


Jenis Bahan

Kelembaban

Jerami

75 – 85

Kayu

75 -90

Kertas

55 – 65

Limbah basah

50 – 60

Sampah kota

55 – 65

Pupuk kandang

55 -65

Kisaran kelembaban kompos yang baik harus dipertahankan karena jika tumpukan bahan terlalu lembab, proses pengomposan akan terjadi lebih lambat.

kelebihan kandungan air akan menutupi rongga udara dalam tumpukan bahan kompos sehingga kadar oksigen yang ada didalam tumpukan bahan kompos akan berkurang (kadar oksigen yang baik 10 – 80% namun jika tumpukan terlalu kering proses proses pengoposan akan terganggu karena mikroorganisme perombak sangat membutuhkan air sebagai tempat hidupnya. Mikroorganisme yang berperan dalam pengomposan memerlukan oksigen. Bahan organic yang ditimbun akan mengalami dekomposisi dengan cepat jika berada dalam keadaan aerob. Aerasi yang tidak seimbang akan menyebabkan bau busuk dari gas yang banyak mengandung belerang.

  1. temperature pengomposan

proses pengomposan akan berjalan dengan baik jika bahan berada dalam temperature yang sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme perombak. Tempertur optimum yang dibutuhkan mikroorganisme untuk merombak bahan adalah 35-55 derajat Celsius. Namun setiap kelompok mikroorganisme memiliki temperature optimum pengomposan merupakan integrasi dari berbagai jenis microorganisme yang terlibat.

Pada pengomposan secara aerobic akan terjadi kenaikan temperature yang cukup cepat selama 3 -5 hari pertama dan temperature tersebut merupakan yang terbaik bagi pertumbuhan microorganisme.pada kisaran temperature ini mikroorganisme dapat tumbuh tiga kali lipat dibandingkan dengan temperature yang kurang dari 55 derajat selsius.selain itu pada temperature tersebut enzim yang dihasilkan juga paling efektif mengurai bahan organic. Penurunan rasio C/N juga dapat berjalan dengan sempurna.

Temperature yang tinggi berperan untuk membunuh mikroorganisme pathogen (bibit penyakit) menetralisir bibit Mycobacterium tuberculosis biasa nya akan rusak pada hari ke 14 pada suhu 65 derajat Celsius. Virus volio akan mati jika berada pada temperature 54 derajar selsius selama 30 menit. Salmonella akan menjadi tidak aktif jika berada pada temperature 60 derajat Celsius pada waktu 60 menit. Ascaris lumbricoides, cacing beracun yang ditemukan pada saluran pencernaan babi akan terbunuh pada temperature 60 derajat selsius dalam waktu 60 meit proetein microorganisme yang mati ini akan digumpalkan. Karena itu keadaan tetemperatur yang tinggi perlu dipertahankan minimum 15 hari berturut turut.

Untuk mempertahankan temperature pengomposan perlu diperhatikan ketinggian tumpukan bahan mentah.

Ketinggian tumpukan yang baik adalah 1 – 1,2 dan tinggi maximum adalah 1,5 – 1,8 m. tumpukan bahan yang terlalu rendah akan membuat bahan lebih cepat kehilangan panas sehingga temperature yang tinggi tidak akan tercapai. Selain itu,microorganisme pathogen tidak akan mati dan proses dekomposisi oleh mikroorganisme termofilik tidak akan tercapai. Jika timbunan yang dibuat terlalu tinggi akan menyebabkan pemadatan pada bahan dan temperature pengomposan menjadi terlalu tinggi.

Pengomposan pada bahan yang memiliki rasio C/N tinggi seperti jerami padi atau jerami gandum peningkatan temperature tidak dapat melebihi 52 derajat Celsius. Keadaan ini menunjukkan bahwa peningkatan temperature juga tergantung dari tipe bahan yang digunakan.

  1. derajat keasaman (pH) Pengomposan

kisaran pH kompos yang optimal adalah 6,0 – 8,0 derajat keasaman bahan pada permulaan pengomposan umumnya asam sampai dengan netral (pH 6,0 – 7,0) derajat keasaman pada awal proses pengomposan akan mengalami penurunan karena sejumlah mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan mengubah bahan organic menjadi asam organic. Pada proses selanjutnya, mikroorganisme, dari jenis yang lain akan mengkonversi asam organic yang telah terbentuk sehingga bahan memiliki derajat keasaman yang tinggi dan mendekati netral.

Seperti factor lainnya derajat keasaman perlu dikontrol selama proses pengomposan berlangsung. Jika derajat keasaman terlalu tinggi atau terlalu basa konsumsi oksigen akan semakin naik dan akan memberikan hasil yang buruk bagilingkungan. Derajat keasaman yang terlalu tinggi juga akan menyebabkan unsure nitrogen dalam bahan kompos berubah menjadi ammonia (NH3) sebaliknya dalam keadaan asam (derajat keasaman rendah) akan menyebabkan sebagian mikroorganisme mati.

Derajat keasaman yang terlalu tinggi dapat diturunkan dengan menambahkan kotoran hewan, urea, atau pupuk nitrogen. Jika derajat keasaman terlalu rendah bisa ditingkatkan dengan menambahkan kapur dan abu dapur kedalam bahan kompos.

  1. Mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan

Mikroorganisme merupakan factor terpenting dalam proses pengomposan karena mikroorganisme ini yang merombak bahan organic menjadi kompos. Beberapa ratus spesies mikroorganisme,terutama bakteri,jamur dan actinoycetes berperan dalam proses dekomposisi bahan organic. Sebagian besar dari mikroorganisme yang melakukan dekomposisi berasal dari bahan organic yang digunakan dan sebagian lagi berasal dari tanah.pengomposan akan berlangsung lama jika jumlah mikroorganisme pada awalnya sedikit. Populasi mikroorganisme selama berlangsungnya perombakan bahan organic akan terus berubah. Mikroorganisme ini dapat diperbanyak dengan menambahkan starter atau activator.

Pada proses pengomposan dikenal adanya inokulan (starter atau activator) yaitu bahan yang terdiri dari enzim, asam humat bahan dan mikroorganisme seperti kultur bakteri.

Berdasarkan kondisi habitatnya, terutama temperature, mikroorganisme yang terlibat dalam pengomposan terdiri dari 2 golongan, yaitu mesofilik dan termofilik. Mikroorganisme mesofilik adalah mikroorganisme yang hidup pada temperature rendah (10 – 45 derajat Celsius) mikroorganismetermofilik adalah mikroorganisme yang hidup pada temperature tinggi (45 – 65 derajat Celsius) pada temperature tumpukan kompos kurang dari 45 proses pengomposan dibantu oleh mesofilik sedangkan ketika temperature tumpukan berada pada 65 organisme yang berperan adalah termofilik.

Dilihat dari fungsinya mikroorganisme mesofilik berfungsi untuk memperkecil ukuran partikel bahan organik sehingga luas permukaan bahan bertambah dan mepercepat pengomposan. Sementara itu, bakteri termofilik yang tumbuh dalam waktu terbatas berfungsi untuk mengkonsumsi karbohidrat dan protein sehingga bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat.

Table standard kualitas kompos asosiasi barak kompos jepang

parame ter

standar

Bahan organic

Lebih besar 70%

Total N

Lebih besar 1,2%

Rasio C/N

Lebih kecil 35

P2O5

Lebih besar 0,5%

K2O

Lebih besar 0,3%

pH

5,5 – 7,5

KTK

Lebih besar 70 meq/100g

Uji benih

Dapat diterima


Keterangan:

Uji benih yang dapat diterima benih tomat, mentimun, dan lobak.


pembuatan kompos dengan cacing

cacing dapat digunakan untuk mempercepat proses pengomposan. metode ini dikenal dengan vermikomposting. metode ini lebih efektif debanding dengan metode pengomposan yang hanya mengandalkan bakteri pengurai yang ada didalam bahan kompos. pada pengomposan ini bakteri pengurai tetap berperan dalam proses penguraian bahan kemudian proses penguraian selanjutnya dilakukan oleh cacing. beberapa keuntungan penggunaan cacing dalam proses pengomposan adalah:
1. karena berlangsung secara aerobik,proses pengomposan tidak menimbulkan bau busuk seperti pengomposan pada umumnya.
2. waktu pengomposan menjadi lebih cepat
3. kotoran cacing (kascing) yang dihasilkan dapat dijadikan pupuk organik karena mengandung unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman dan mudah diserap.

jenis cacing tanah yang biasa digunakan adalah Lumbricus rubellus (kayak nama temennya asterix..hehehe) cacing jenis ini dapat hidup dalam populasi yang padat.cacing banyak ditemukan dibawah timbunan daunan atau timbunan kotoran ternak.cacing ini tidak dapat hidup jauh didalam tanah seperti cacing lainnya tetapi lebih sering hidup dilapisan atas yang mendekati permukaan tanah. cacing dewasa pada umur 7 minggu dan bertelur pada umur 8 minggu.seekor cacing dewasa dapat menghasilkan 2 telur perminggu dan setiap telur dapat menetaskan 2 -3 ekor cacing.
ciri ciri cacing lumbrikus adalah sbb:
1. bagian atas tubuhnya berwarna kecoklatan atau merah ungu,sedangkan permukaan bawah tubuhnya berwarba pucat
2. menempati tanah lapisan atas, tetapi kawin dan bertelur didalam tanah
3. panjang 60 -150 mm dan diameter 4-6 mm
4.mencapai dewasa pada umur 179 hari dengan masa hidup 682 - 719 hari
5. dapat menghasilkan 79 - 106 kokon pertahun perekor

pemilihan bahan dan persiapan
bahan yang dapat digunakan untuk membuat kompos dengan bantuan cacing adalah bahan yang berserat tinggi spt jerami,batang pisang sabut kelapa dan kertas. setelah dipilih bahan tersebut diangin anginkan selama 2-3 minggu selama proses tsb pembalikan dan penyiraman bahan kompos dilakukan sebanyak 2 kali agar dicapai temperatur yang homogen dan tidak panas.setelah itu bahan kompos diletakkan dalam kantong plastik atau pada bedengan kayu yang dilapisi plastik.

memasukkan cacing
setelah dimasukkan kedalam plastik, bahan kompos diberi cacing.cacing dipelihara selama 6 minggu dengan memberikan pakan setiap 3 hari sekali.pakan yang diberikan bisa berupa sayuran yg digiling atau kotoran ternak.plastik penampung 1000 - 5000 ekor cacing dan 30 -40 kg media dan bahan makanan.

pemanenan
pemanenan dilakukan setelah seluruh bahan habis dimakan cacing dan tampak butiran kotorancacing pada bahan. pemanenan dapat dilakukan dengan menumpuk bahan spt gundukan.dengan cara ini cacing akanberpindah ke dasar gundukan untuk menghindari panas matahari. setelah dipanen produk yang dihasilkan dikeringkan kemudian diayak. pengayakan dilakukan untuk memisahkan bahan yang terlalu besar serta mengambil cacing dan telur cacing. cacing yang sudah dupakai dapat dimasukan kedalam media baru atau dijual untuk pakan ternak/ikan.

PROSES PEMBUATAN PUPUK ORGANIK (petroganik)

Latar belakang:
TANAH
Adalah salah satu tempat atau media untuk kehidupan tanaman. Tanah terdiri dari lapisan bumi paling luar yang berasal dari pelapukan batuan induk yang mempunyai kedalaman dan karakter yang berbeda beda.
BAHAN ORGANIK TANAH
Bahan organic tanah merupakan hasil dari pelapukan sisa sisa tanaman dan atau binatang yang bercampur dengan bahan mineral lain didalam tanah pada lapisan atas tanah, yang mempunyai fungsi yaitu:

  • fisika : memperbaiki struktur tanah, memperbaiki aerasi tanah, meningkatkan daya penyangga air tanah, menekan laju erosi.

  • Kimia : menyangga dan menyediakan hara tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan, menetralkan sifat racun Al dan Fe.

  • Biologi : sumber energi bagi jasad renik / microba tanah yang mampu melepaskan hara bagi tanaman.

  • Bahan organic tanah merupakan penyangga biologis tanah yang mampu menyeimbangkan hara dalam tanah dan menyediakan hara bagi tanaman secara efisien.

Tanah pertanian di Indonesia
Kondisi yang memprihatinkan tanah di Indonesia khususnya dipulau jawa karena kondisi kandungan C-organic sudah sangat rendah, rata rata kurang dari 2% padahal kondisi yang seharusnya adalah 5%.Kondisi tanah yang bagus terdiri dari udara 25%, Bahan Organik 5%, Air 25%, mineral 45%.
Kondisi kandungan C-organik lahan pertanian kita yang sangat rendah karena akibat dari lahan lahan yang dikelola secara intensif tanpa memperhatikan kelestarian kesehatan tanah (tanpa usaha pengembalian bahan organic ke dalam tanah.
Hal ini menjadi salah satu sebab terjadinya pelandaian produktivitas meskipun jenis dan dosis pupuk kimia ditingkatkan, karena tanah telah menjadi SAKIT.
Bahan organic tanah merupakan bagian dari tanah dan mempunyai fungsi yaitu:
Meningkatkan kesuburan tanah dan menyediakan micro hara dan factor-faktor pertumbuhan lainnya yang biasanya tidak disediakan oleh pupuk kimia (anorganik)
tanah dengan bahan organic yang rendah, mempunyai daya daya sangga hara yang rendah, sehingga pemupukan kurang efisien.
Tanah yang subur mengandung bahan organic sekitar 3 – 5 %.
BAHAN ORGANIK
Bahan organic adalah bahan yang berasal dari limbah tumbuhan atau hewan atau produk sampingan seperti pupuk kandang atau unggas pupuk hijau dll. Pada umumnya bahan organic mempunyai C/N rasio tinggi (besar dari 30), sehingga bila digunakan langsung pada lahan pertanian akan mengganggu pertumbuhan tanaman karena terjadi proses fermentasi dalam tanah.
PUPUK ORGANIK
Definisi:
Pupuk organic adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organic yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organic tanah, memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biolagi tanah.
PEMUPUKAN BERIMBANG
Pemupukan berimbang adalah gabungan antara pupuk Anorganik dengan pupuk organic
Arti praktisnya adalah pemupukan dengan mempertimbangkan JENIS, JUMLAH, CARA, dan WAKTU.pemupukan, sesuai dengan kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman untuk mendapatkan hasil panen yang optimal.
PUPUK ORGANIK
Dengan penggunaan pupuk organic atau pengembalian bahan organic kedalam tanah akan berpengaruh pada kesuburan tanah sehingga:

  • terjadi peningkatan produksi hasil pertanian

  • efisiensi penggunaan pupuk

  • menjaga kelestarian lingkungan hidup

untuk mengoptimalkan produktifitas pertanian serta efisiensi pemupukan maka dianjurkan penerapan teknologi pemupukan berimbang dikombinasikan dengan penggunaan bahan organic
PUPUK ORGANIK PETROGANIK
Guna menjawab tantangan tersebut PT. petrokimia gresik melakukan pengembangan varian pupuk organic super “petroganik”
Dengan spesifikasi produk:
Kadar c-organik : 12,5%
C/N rasio 10 – 25
pH 4 – 8
kadar air 4 – 12 %
aturan ini telah sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian tentang persyaratan teknis Pupuk Organik No: 02/pert/HK.060/2/2006 tgl 10 februari 2006.
PROSES PRODUKSI PETROGANIK
Bahan baku terdiri dari pupuk kandang (kotoran sapi, kambing, unggas dll), limbah industri (limbah pabrik gula) limbah kota (sampah rumah tangga) filler. Kemudian bahan tersebut dihaluskan sehingga berbentuk butiran hingga debu dengan cara di crusher dengan mesin crusher atau dengan cara manual dicangkul dan di ayak/ disaring. Bahan yang telah halus ditimbang sesuai dengan formula yang telah di tetapkan. Setelah dilakukan penimbangan bahan di campur dengan mixtro, suplemen dan air di pan granulator. Bahan yang telah tercampur akan membentuk granule/ butiran.hasil granule bahan kemudian didiamkan selama 2 -3 hari untuk menurunkan kadar air yang terdapat dalam hasil granule.setelah setengah kering kemudian dilakukan pengeringan. Pengeringan dilakukan pada mesin dryer dengan kapasitas 7 – 10 ton perhari.dari mesin dryer dilakukan pengayakan pada mesin screen sehingga granule yang diayak bisa sama besarnya.dari mesin screen kemudian di packing dengan karung 20 Kg.
PABRIK PETROGANIK
1. Kapasitas produksi
10 ton perhari/ 8 jam operasi / atau 10 000 ton /th
2. bahan baku
- kotoran sapi, kotoran ayam, limbah pabrik gula (blothong), limbah pabrik sawit (tandan kosong)
- mixtro
- suplemen
- filler : kapur / tanah liat
3. utilities
- listrik : 70 Kwh
- air
4. peralatan utama
- mesin crusher : 1 unit, kap. 2 ton / jam
- pan granulator : 3 unit, kap 1,5 ton / jam
- rotary dryer : 1 unit, kap 1,5 ton / jam
5. luas lahan yang diperlukan 1000 m2
6. jumlah tenaga kerja untuk operasi peralatan pabrik dan penyiapan bahan baku diperlukan tenaga kerja sekitar 14 orang.
PUPUK PETROGANIK
Kegunaan

  • menggemburkan dan menyuburkan tanah

  • meningkatkan daya simpan dan daya serap air

  • memperkaya hara makro dan mikro

  • sesuai untuk semua jenis tanah dan jenis tanaman

    keunggulan

  • kadar C-organik tinggi

  • berbentuk granule sehingga mudah dalam aplikasi

  • aman dan ramah lingkungan ( bebas mikroba patogen)

  • bebas dari biji bijian gulma

  • kadar air rendah sehingga lebih efisien dalam pengangkutan dan penyimpanan

  • dikemas dalam kantong kedap

    pupuk petroganik

dosis dan penggunaan Pupuk Petroganik

  • padi dan palawija : 500 – 1000 Kg/ha

  • hortikultura : 2000 Kg/ha

  • tanaman keras : 3 Kg / pohon

  • tambak : 300 – 500 Kg/ha

penggunaan Pupuk Petroganik seluruhnya pada pemupukan dasar, sedangkan untuk tanaman keras diberikan pada awal dan akhir musim hujan.

bersambung .....



surat terbuka

permohonan maaf kepada mas isroi :))
tulisan di wiki gw posting kesini..maaf ya mas :))
sebenar udah saya tulis lo mas.. mungkin mas isroi tidak melihat
di baris paling bawah ada lo nama mas :))
minta maaf seribu maaf..

KOmpOS (by isroi 0. 2008. KOMPOS. isroi.Makalah. Balai PenelitianBioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.

Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak
lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat
secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam
kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik
(Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan
pengomposan adalah proses dimana bahan organik
mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh
mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber
energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami
tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini
meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang
cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik.
Rata-rata persentase bahan organik sampah
mencapai ±80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan
yang sesuai.
1. Pendahuluan
Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di
alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun
proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan
lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak
dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan
dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi. Pada
prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada
proses penguraian bahan organic yang terjadi secara alami. Proses
penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat
berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat
ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi
permasalahan limbah organic, seperti untuk mengatasi masalah sampah
di kota-kota besar, limbah organik industry, serta limbah pertanian
dan perkebunan.
Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara
aerobik maupun anaerobik, dengan atau tanpa aktivator
pengomposan. Aktivator pengomposan yang sudah banyak beredar antara
lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec, ActiComp,
BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM
(Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan
kompos (vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan
sendiri-sendiri.
Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah
dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses
yang terlalu sulit. Dekomposisi bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri
dengan bantuan udara. Sedangkan pengomposan secara anaerobik
memanfaatkan mikroorganisme yang tidak membutuhkan udara dalam
mendegradasi bahan organik.
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat
dibutuhkan untuk kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia,
sebagai upaya untuk memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga
produksi tanaman menjadi lebih tinggi.
Kompos yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan
untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan kembali tanah
pertanian, menggemburkan kembali tanah petamanan, sebagai bahan
penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan, dan
sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang
mengandung karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah
hijauan, sampah kota, lumpur cair dan limbah industri pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yangumum dijadikan bahan baku pengomposan.
Asal |Bahan
1. Pertanian |
Limbah dan residu tanaman |Jerami dan sekam padi, gulma, batang dan
tongkol jagung, semua bagian vegetatif tanaman, batang pisang dan
sabut kelapa
Limbah & residu ternak |Kotoran padat, limbah ternak cair,
limbah pakan ternak, cairan biogas
Tanaman air |Azola, ganggang biru, enceng gondok, gulma air
2. Industri |
Limbah padat |Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas, ampas tebu,
limbah kelapa sawit, limbah pengalengan makanan dan pemotongan
hewan
Limbah cair |Alkohol, limbah pengolahan kertas, ajinomoto, limbah
pengolahan minyak kelapa sawit
3. Limbah rumah tangga |
Sampah |Tinja, urin, sampah rumah tangga dan sampah kota
2. Manfaat Kompos

Kompos ibarat multi-vitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan
meningkatkan kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat
Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan
bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk
mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang
bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos.
Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara
dari tanah dan menghasilkan senyawa yang dapat merangsang
pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat
membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik
kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia,
misal: hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar,
dan lebih enak.

Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa
aspek:
Aspek Ekonomi :
1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
2. Mengurangi volume/ukuran limbah
3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan
asalnya
Aspek Lingkungan :
1. Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah
2. Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman:
1. Meningkatkan kesuburan tanah
2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
3. Meningkatkan kapasitas jerap air tanah
4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah
panen)
6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
7. Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
8. Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
3. Dasar-dasar Pengomposan
3. 1. Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan
Pada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan,
misalnya: limbah organik rumah tangga, sampah-sampah organik
pasar/kota, kertas, kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah
pertaniah, limbah-limbah agroindustri, limbah pabrik kertas, limbah
pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll. Bahan organik yang
sulit untuk dikomposkan antara lain: tulang, tanduk, dan
rambut.
3. 2. Proses Pengomposan
Proses pengomposan akan segera berlansung setelah bahan-bahan
mentah dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi
menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama
tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah
terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu
tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan
diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di
atas 50o - 70o C. Suhu akan tetap tinggi
selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah
mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada
saat ini terjadi dekmposisi/penguraian bahan organik yang sangat
aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen
akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan
panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan
berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi
pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat
humus. Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume
maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 - 40% dari
volume/bobot awal bahan.
Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan
oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan
sebelumnya adalah proses aerobik, dimana mikroba menggunakan
oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi
dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses
anaerobik. Namun, proses ini tidak diinginkan selama proses
pengomposan karena akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses
aerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap,
seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam
valerat, puttrecine), amonia, dan H2S.
Tabel organisme yang terlibat dalam proses pengomposan
Kelompok Organisme |
Organisme | Jumlah/gr kompos
Mikroflora | Bakteri; Aktinomicetes; Kapang | 109 -
109; 105 108; 104 -
106
Mikrofanuna | Protozoa | 104 - 105
Makroflora | Jamur tingkat tinggi |
Makrofauna | Cacing tanah, rayap, semut, kutu, dll |
Proses pengomposan tergantung pada :
1. Karakteristik bahan yang dikomposkan
2. Aktivator pengomposan yang dipergunakan
3. Metode pengomposan yang dilakukan
3. 3. Faktor yang mempengaruhi proses
Pengomposan

Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi
lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai,
maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi
limbah padat organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak
sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain,
atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses
pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu
sendiri.

Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara
lain:

Rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses
pengomposan berkisar antara 30: 1 hingga 40:1. Mikroba memecah
senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N untuk sintesis
protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan
cukup C untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio
C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk sintesis
protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.

Ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada
diantara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih luas
akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses
dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga
menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk
meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil
ukuran partikel bahan tersebut.

Aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi
dalam kondisi yang cukup oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan
terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan udara
hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam tumpukan
kompos. Aerasi ditentukan oleh posiritas dan kandungan air
bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi
proses anaerob yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi
dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan atau mengalirkan
udara di dalam tumpukan kompos.

Porositas Porositas adalah ruang diantara
partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan
mengukur volume rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga
ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen
untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka
pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan juga akan
terganggu.

Kelembaban (Moisture content) Kelembaban
memegang peranan yang sangat penting dalam proses metabolisme
mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada suplay oksigen.
Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila bahan
organik tersebut larut di dalam air. Kelembaban 40 - 60 % adalah
kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di
bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan
lebih rendah lagi pada kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih
besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang,
akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi
fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap.

Temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas
mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan
konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak
konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses dekomposisi.
Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos.
Temperatur yang berkisar antara 30 - 60oC menunjukkan aktivitas
pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan
membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang
akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh
mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.

pH Proses pengomposan dapat terjadi pada
kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk proses pengomposan
berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya berkisar
antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan
perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai
contoh, proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan
menyebabkan penurunan pH (pengasaman), sedangkan produksi amonia
dari senyawa-senyawa yang mengandung nitrogen akan meningkatkan pH
pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang sudah matang
biasanya mendekati netral.

Kandungan Hara Kandungan P dan K juga penting
dalam proses pengomposan dan bisanya terdapat di dalam
kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh
mikroba selama proses pengomposan.

Kandungan Bahan Berbahaya Beberapa bahan
organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi
kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr
adalah beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat
akan mengalami imobilisasi selama proses pengomposan.

Lama pengomposan Lama waktu pengomposan
tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposakan, metode
pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan
aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung
dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos
benar-benar matang.

Tabel Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan
(Ryak, 1992)
Kondisi | Konsisi
yang bisa diterima | Ideal
Rasio C/N | 20:1 s/d 40:1 | 25-35:1
Kelembaban | 40 - 65 % | 45 - 62 % berat
Konsentrasi oksigen tersedia | > 5% | > 10%
ukuran partikel | 1 inchi | bervariasi
Bulk Density | 1000 lbs/cu yd | 1000 lbs/cu yd
pH | 5.5 - 9.0 | 6.5 - 8.0
Suhu | 43 - 66oC | 54 -60oC
4. Strategi Mempercepat Proses Pengomposan

Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Secara
umum strategi untuk mempercepat proses pengomposan dapat
dikelompokan menjadi tiga, yaitu:


1. Menanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses
pengomposan.

2. Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat proses
pengomposan: mikroba pendegradasi bahan organik dan vermikompos
(cacing).

3. Mengambungkan strategi pertama dan kedua.


4. 1. Memanipulasi Kondisi Pengomposan

Strtegi ini banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya
teknologi pengomposan. Kondisi atau faktor-faktor pengomposan
dibuat seoptimum mungkin. Sebagai contoh, rasio C/N yang optimum
adalah 25-35:1. Untuk membuat kondisi ini bahan-bahan yang
mengandung rasio C/N tinggi dicampur dengan bahan yang mengandung
rasio C/N rendah, seperti kotoran ternak. Ukuran bahan yang
besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil dan ideal untuk
proses pengomposan. Bahan yang terlalu kering diberi tambahan air
atau bahan yang terlalu basah dikeringkan terlebih dahulu sebelum
proses pengomposan. Demikian pula untuk faktor-faktor lainnya.

4. 2. Menggunakan Aktivator Pengomposan

Strategi yang lebih maju adalah dengan memanfaatkan organisme
yang dapat mempercepat proses pengomposan. Organisme yang sudah
banyak dimanfaatkan misalnya cacing tanah. Proses pengomposannya
disebut vermikompos dan kompos yang dihasilkan dikenal dengan
sebutan kascing. Organisme lain yang banyak dipergunakan adalah
mikroba, baik bakeri, aktinomicetes, maupuan kapang/cendawan. Saat
ini dipasaran banyak sekali beredar aktivator-aktivator
pengomposan, misalnya : Promi, OrgaDec, SuperDec, ActiComp, EM4,
Stardec, Starbio, BioPos, dan lain-lain.

Promi, OrgaDec, SuperDec, dan ActiComp adalah hasil penelitian
Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan saat
ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Aktivator
pengomposan ini menggunakan mikroba-mikroba terpilih yang memiliki
kemampuan tinggi dalam mendegradasi limbah-limbah padat organik,
yaitu: Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, Trichoderma
harzianum, Pholyota sp, Agraily sp dan FPP (fungi pelapuk putih).
Mikroba ini bekerja aktif pada suhu tinggi (termofilik). Aktivator
yang dikembangkan oleh BPBPi tidak memerlukan tambahan bahan-bahan
lain dan tanpa pengadukan secara berkala. Namun, kompos perlu
ditutup/sungkup untuk mempertahankan suhu dan kelembaban agar
proses pengomposan berjalan optimal dan cepat. Pengomposan dapat
dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan lunak/mudah
dikomposakan hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit
dikomposkan.
4. 3. Memanipulasi Kondisi dan Menambahkan Aktivator
Pengomposan
Strategi proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan
adalah mengabungkan dua strategi di atas. Kondisi pengomposan
dibuat seoptimal mungkin dengan menambahkan aktivator
pengomposan.
4. 4. Pertimbangan untuk menentukan strategi
pengomposan
Seringkali tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan
di atas dalam waktu yang bersamaan. Ada beberapa pertimbangan yang
dapat digunakan untuk menentukan strategi pengomposan:
1. Karakteristik bahan yang akan dikomposkan.
2. Waktu yang tersedia untuk pembuatan kompos.
3. Biaya yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai.
4. Tingkat kesulitan pembuatan kompos
5. Pengomposan secara aerobik
5. 1. Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik
terdiri dari peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan
perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. Berikut
disajikan peralatan yang digunakan.
1. Terowongan udara (Saluran Udara)
* Digunakan sebagai dasar tumpukan dan saluran udara
* Terbuat dari bambu dan rangka penguat dari kayu
* Dimensi : panjang 2m, lebar ¼ - ½ m, tinggi ½ m
* Sudut : 45o
* Dapat dipakai menahan bahan 2 - 3 ton
2. Sekop
* Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya
3. Garpu/cangkrang
* Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan
pemilahan sampah
4. Saringan/ayakan
* Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar
diperoleh ukuran yang sesuai
* Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang
diinginkan
* Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau
saringan putar
5. Termometer
* Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan
* Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke
bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat
* Sebaiknya digunakan termometer
alkohol (bukan air raksa) agar tidak
mencemari kompos jika termometer pecah
6. Timbangan
* Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat
yang diinginkan
* Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan
dan pengemasan
7. Sepatu boot
* Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja
agar terhindar dari bahan-bahan berbahaya
8. Sarung tangan
* Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan
pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang memerlukan
perlindungan tangan
9. Masker
* Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu
dan gas bahan terbang lainnya
Pengomposan dapat juga menggunakan alat mesin yang berfungsi
dalam memberi asupan oksigen serta membalik bahan secara praktis.
Komposter Rotary Klin berkapasitas 1 ton bahan sampah mengelola
proses membalik bahan dan mengontrol aerasi dengan cara mengayuh
pedal serta memutar aerator ( exhaust fan). Penggunaan komposter
BioPhoskko disertai aktivator kompos yang tepat akan meningkatkan
kerja penguraian bahan (dekomposisi) oleh jasad renik menjadi 5
sampai 7 hari saja.
5. 2. Tahapan pengomposan
1. Pemilahan Sampah
* Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari sampah
anorganik (barang lapak dan barang berbahaya). Pemilahan harus
dilakukan dengan teliti karena akan menentukan kelancaran proses
dan mutu kompos yang dihasilkan
2. Pengecil Ukuran
* Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah,
sehingga sampah dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi
kompos
3. Penyusunan Tumpukan
* Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecil
ukuran kemudian disusun menjadi tumpukan.
* Desain penumpukan yang biasa digunakan adalah desain memanjang
dengan dimensi panjang x lebar x tinggi = 2m x 12m x 1,75m.
* Pada tiap tumpukan dapat diberi terowongan bambu (windrow) yang
berfungsi mengalirkan udara di dalam
tumpukan.
4. Pembalikan
* Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan,
memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses
pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air, serta
membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.
5. Penyiraman
* Pembalikan dilakukan terhadap bahan baku dan tumpukan yang
terlalu kering (kelembaban kurang dari 50%).
* Secara manual perlu tidaknya penyiraman dapat dilakukan dengan
memeras segenggam bahan dari bagian dalam tumpukan.
* Apabila pada saat digenggam kemudian diperas tidak keluar air,
maka tumpukan sampah harus ditambahkan air. sedangkan jika sebelum
diperas sudah keluar air, maka tumpukan terlalu basah oleh karena
itu perlu dilakukan pembalikan.
6. Pematangan
* Setelah pengomposan berjalan 30 - 40 hari, suhu tumpukan akan
semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan.
* Pada saat itu tumpukan telah lapuk, berwarna coklat tua atau
kehitaman. Kompos masuk pada tahap pematangan selama 14 hari.
7. Penyaringan
* Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos
sesuai dengan kebutuhan serta untuk memisahkan bahan-bahan yang
tidak dapat dikomposkan yang lolos dari proses pemilahan di awal
proses.
* Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan
yang baru, sedangkan bahan yang tidak terkomposkan dibuang sebagai
residu.
8. Pengemasan dan Penyimpanan
* Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantung sesuai dengan
kebutuhan pemasaran.
* Kompos yang telah dikemas disimpan dalam gudang yang aman dan
terlindung dari kemungkinan tumbuhnya jamur dan tercemari oleh
bibit jamur dan benih gulma dan benih lain
yang tidak diinginkan yang mungkin terbawa oleh angin.
6. Kontrol proses produksi kompos
1. Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh
hasil yang baik.
2. Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan
atau habitat dimana jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan
berkembang biak dengan optimal.
3. Jasad renik membutuhkan air, udara (O2), dan makanan berupa
bahan organik dari sampah untuk menghasilkan energi dan
tumbuh.
6. 1. Proses pengontrolan
Proses pengontrolan yang harus dilakukan terhadap tumpukan
sampah adalah:
1. Monitoring Temperatur Tumpukan
2. Monitoring Kelembaban
3. Monitoring Oksigen
4. Monitoring Kecukupan C/N Ratio
5. Monitoring Volume
. Mutu kompos
1. Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi
dengan sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi
pertumbuhan tanaman.
2. Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya
persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah
yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman
3. Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
* Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
* Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk
suspensi,
* Nisbah C/N sebesar 10 - 20, tergantung dari bahan baku dan
derajat humifikasinya,
* Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah,
* Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
* Tidak berbau.
8. Literatur
0. 2008. KOMPOS. isroi.Makalah. Balai Penelitian
Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.

kOmpOs SedERhana (buanget) :p~

Tahukah kalian kalau kompos itu ternyata tidak hanya berupa kompos padat? kompos cair ada juga loh. kompos cairnya beraroma buah lagi!!. Tinggal pilih mau kompos aroma nanas, pisang atau jeruk… tergantung bahan apa yg menjadi dasar pembuatannya.(biasanya kan kompos beraroma WC) :p~

Ternyata untuk membuat kompos cair itu tidak sulit lho. Kita cuma perlu menyediakan buah2an busuk, karung plastik bekas beras, ember, gula, dan air sumur yg belum diberi kaporit. Setelah semua bahan dan peralatan tersedia, tinggal ikuti langkah 1, 2, 3 :
1 kg buah busuk (termasuk daging, kulit dan bijinya) dicacah kemudian dimasukkan ke dalam karung beras.
2 ratus gram gula dicampur dengan
3 L air sumur.

Masukkan karung berisi buah busuk ke dalam ember dan tuangi dengan air gula, lalu tutup rapat. Bakal kompos cair ini harus diaduk setiap 3 hari sekali. Tunggu sampai satu bulan. Jadi deh kompos cair. Gampang banget kan? Sebelum diberikan pada tanaman, setiap 1 liter kompos cair harus diencerkan terlebih dahulu dengan 100 L air, kalau ngga, tanamannya bisa over dosis hehehe. :p~~

ternyata juga... pembuatan kompos padat juga sangat mudah lho. Konon hampir semua limbah rumah tangga bisa digunakan, kecuali daun salam, daun rambutan, masakan bersantan, dan janur bekas ketupat pembuatan kompos cair ini lalu bisa diolah lagi jadi kompos padat. Tinggal dimasukkan ke dalam tong sampah yg sudah dibolongi kecil2 di sekelilingnya. Pertama dasar tong diberi kompos yg sudah jadi setebal kira2 2 cm. baru masukkan sampah organik. Setelah itu lapisi lagi dgn sekam atau tanah biasa juga boleh atau serbuk gergaji. Timpa lagi dengan sampah. Terus begitu berlapis-lapis. Tutup tong sampah dan aduk setiap 5 hari sekali. Dlm waktu 2 bulan kita akan memperoleh kompos padat. Tapi proses pembusukan ini bisa dipercepat kalau kita menyiramkan kompos cair ke bahan pembuat kompos padat. Ada yg tertarik untuk menjadi juragan kompos?
sederhana buangetttt !!! bagi yang meless tuhhhh!!

Pupuk Organik dan Pupuk Hayati (by isroi)

Pupuk organik (contohnya kompos) dan pupuk hayati (mikroba) sebenarnya adalah dua jenis pupuk yang berbeda. Pupuk organik mengandung unsur hara lengkap untuk tanaman, meskipun konsentrasinya rendah. Tetapi pupuk organik memiliki kandungan lain yang tidak ada di dalam pupuk kimia atau pupuk mikroba, yaitu senyawa-senyawa organik yang sangat berguna bagi tanaman maupun biota tanah. Contohnya adalah asam humik dan asal fulvat. Kedua asam ini diketahui berperan seperti hormon yang dapat merangsang perakaran dan pertumbuhan tanaman.

Pupuk hayati (mikroba) tidak menyediakan hara bagi tanaman. Jadi tidak memiliki kandungan N, P, atau K. Di alam mikroba-mikroba ini memiliki peranan yang sangat penting bagi tanaman. Hampir seluruh proses penyerapan hara oleh tanaman dibantu oleh mikroba. Ibaratnya mikroba ‘menyuapi’ tanaman. Ada mikroba yang berperan dalam menambat N dari udara, contohnya Azosprillium sp, Azotobacter sp, Rhizobium sp (pada kacang-kacangan), dll. Udara mengandung kurang lebih 74% N, tetapi tanaman tidak bisa menyerap (“memakan”) hara N ini. N udara harus ditambat oleh mikroba, baru bisa ‘dimakan’ oleh tanaman. Ada juga mikroba yang berperan dalam pelarutan hara P, contohnya Aspergillus sp dan Penicillium sp. P di dalam tanah berada dalam ikatan dengan mineral dan liat tanah. P ini sulit untuk diserap oleh akar tanaman. Agar mudah diserap oleh tanaman P ini harus dilarutkan oleh mikroba menjadi ion fosfat. Kalau dilihat di bawah mikroskop akar tanaman akan dipenuhi oleh mikroba. Masih ada mikroba-mikroba lain yang memberi perlindungan untuk tanaman, ada juga yang memberi ‘vitamin’ untuk tanaman.

Kalau makanan tanaman adalah unsur hara, maka makanan untuk mikroba adalah bahan organik. Sebagian bahan organik ini diberikan oleh tanaman, tetapi sebagian besar adalah bahan organik yang di dalam tanah. Kalau di dalam tanah bahan organiknya rendah, kehidupan mikroba tanah juga akan ‘merana’. Di tanah-tanah yang kandungan bahan organiknya tinggi, maka aktivitas mikroba tanahnya juga tinggi. Demikian pula di tanah-tanah yang kandungan bahan organiknya rendah, aktivitasnya juga akan sangat rendah. Hanya mikroba-mikroba yang ‘ulet’ saja yang masih bisa hidup.

Memperkaya pupuk organik (kompos) dengan mikroba sebenarnya adalah menggabungkan antara pupuk organik dengan pupuk hayati. Pupuk organik diberikan untuk tanaman, menyediakan hara dan ‘vitamin’ bagi tanaman, sekaligus menyediakan ‘makanan’ untuk mikroba. Mikroba-mikroba yang ada di dalam pupuk hayati akan lebih hidup ’sejahtera’ karena banyak makanan untuknya. Mikroba akan bekerja lebih giat dan berkembang biak lebih cepat. Pupuk organik dan pupuk hayati dapat bekerja sinergis untuk menyuburkan tanaman.